:Yang Tidak Kasat Mata, Yang Lebih
Terjaga:::

“Mau mengerti  agama atau tidak,
pemuda sekarang sama saja. tetap saja
yang diutamakan adalah yang cantik
saja. Sudah berlalu zaman ketika lelaki
melamar seorang muslimah disebabkan
karena pemahaman dan ilmu. ” begitulah keluh beberapa muslimah kepada saya.

Ya benar, tidak dapat dipungkiri, saat
ini jaman telah berubah. Jenggotan
bukan milik orang shalih saja. Buktinya
komedian saja jenggotan panjang
bahkan hingga di kepang. Pembicaraan
group ikhwan atau group akhwat saja sudah melebar entah kemana-mana. Kalau dulu ikhwan
akhwat sebanding dengan akhlak yang
cukup terjaga dan mulia, sekarang
ikhwan akhwat cukup dikenali dari
pasang profil di akun jejaring sosial
dengan gambar kartun jenggotan atau
perempuan berjilbab yang cantik jelita.

Menurut saya, fenomena mendahulukan
lamaran yang cantik mulai bergeser
sejak tahun 2007 keatas. Fenomena
cantik yang di dahulukan ini masuk
sejak populasi ‘the invisible akhwat’
menurun drastis bahkan sekarang
masuk kategori langka.

Apa itu the invisible akhwat?
hehehe…artian harfiahnya adalah
akhwat tidak kasat mata. Artinya
akhwat yang tidak terlihat. Tapi ini
bukan berarti mereka punya selendang
ajaib Hary Potter yang bisa membuat
seseorang tidak mampu melihat mereka.
tidak pula karena mereka adalah para
mutant yang berregenerasi selnya.
Para akhwat tidak kasat mata ini
adalah muslimah yang kehadiran mereka atau keberadaan mereka selayak batu disamping jalan. Tidak akan
diperhatikan karena fisik, namun di
butuhkan karena kemanfaatannya.

Dahulu, di zaman akhwat tidak kasat
mata. Mereka adalah sekumpulan
manusia aneh yang di nilai norak karena memakai jilbab panjang. warnanya cenderung itu-itu saja. menghindari khalwat dan ikhtilat. bicara sepentingnya, jarang berhaha-hihi kecuali dengan sesama rekannya saja. Pembicaraan mereka asiknya di seputar fiqh sunnah, kajian wanita, ilmu hadist, persiapan rumah tangga islami, fadhilah amal, hal-hal yang sungguh menarik untuk dibahas dan dibincangkan. Akhwat tidak kasat mata ini memang istimewa. Umur mereka 19 tahun mereka sudah menggendong anak kakak tingkatnya yang sedang belajar di ruang kuliah sedangkan anaknya di titip dimushalla kampus karena tidak mungkin membawa anak masuk kedalam ruang belajar. Itu suatu hal yang lumrah karena sang kakak tingkatnya menikah di umur 19 dan telah memiliki dua orang
anak. Anak lelakinya kemana saja ikut
abinya yang juga baru berumur 20an.
Anak perempuannya nempel pada ibunya yang masih kuliah di semester akhir.

Nah, siapa pula yang mau menggoda
perempuan umur 20an yang hobinya
gendong anak kakak tingkatnya
kemana-mana?

Akhwat tidak kasat mata juga sangat
menjaga. Jarang pakai make up yang
kentara  apalagi pakai parfum
tingkat tinggi. Baju dan jilbabnya.. uhhh.. jadul benar. Jilbab segi empat
dan gamis. Penampilannya seolah tua
sebelum waktunya. Siapa yang menyukai gadis seperti emak-emak itu? Tapi rata-rata mereka menonjol di IPK dan studi. Mungkin karena mereka tidak
mikir pacaran, cinta-cintaan, atau hal-
hal tidak penting lainnya.

Nah, jaman akhwat tidak kasat mata
itu pun mulai pudar serta populasinya
mulai punah dan langka dimulai dari
perubahan gaya dan bacaan serta
kepercayaan akhwat masa kini. Bila
dulu jodoh banyak percaya di tangan
Allah. Kini jodoh masih ditangan Allah
namun diyakini juga berada di pakaian
menarik, wajah yang cantik, serta cara
bergaul yang lebih terbuka.

Bila dulu bacaan wajib adalah fiqh
sunnah wanita, buku-buku ilmu
mengkaji Alquran dan hadist, kini sudah
digantikan dengan kitab berjudul
“katalog jilbab terbaru” atau “gamis
cantik terbaru.”

Ini menandakan masuknya era baru.
Yang dulu bagaikan batu dijalanan.
Hanya diambil bila dibutuhkan, kini
eranya berubah menjadi era bunga di
samping jalan.

The Invisible akhwat punah dan
berkembang populasi akhwat nivea.
Apalagi akhwat Ponds? hehehe.. itulah
populasi akhwat yang selayak iklan
produk kecantikan. “Wajahmu
memalingkan duniaku.”

Akhwat Ponds ini memang lebih anggun, modis, ceria, menarik dipandang mata dibandingkan akhwat tidak kasat mata.

Senyuman mereka selalu tersungging
merekah cantik, baik di dunia nyata
maupun maya. Akrab di koment status
dan dekat di dunia nyata. Suara lembut
menjadi kebiasaan, beda dengan para
akhwat tidak kasat mata yang suaranya
tegas dan jarang bicara sembari
tersenyum dengan lawan jenisnya.

Akhwat Ponds ini hasil produk dari
katalog jilbab dan gamis masa kini. Baju
gamis mereka tidak kuno, jilbabnya
tidak segi empat lagi. Bermerk ternama
setidaknya rabbani atau zoya. Ya,
walau tidak sampai di lilit di kepala,
setidaknya jilbabnya mulai di
aksesoriskan dengan bermacam gaya.
Bajunya aduhai menarik, dari yang
berwarna peach, blue sky, soft yellow
dan warna mentereng lainnya. Akhwat
nivea inilah yang kemudian mendorong
para lelaki berjenggot yang dulunya
suka diskusi kitab Manhaj Haraki kita
lebih suka diskusi MLM konon islami di
grup-grup halaqahnya.